Alkisah di sebuah kampung yg damai dan sentosa tiba2 dikejutkan oleh pidato yg disampaikan oleh pak Lurah. Lurah yg baru menjabat sebulan tersebut membuat peraturan baru. Peraturan tersebut antara lain:
1. Semua bentuk sumbangan, baik dari desa maupun dari warga sekitar dilarang. Kotak infak masjid harus disita, zakat fitrah pas lebaran dilarang, setiap ada kematian, desa dan warga dilarang menyumbang, angpao pernikahan dan sunatan dilarang, sunatan massal mulai detik ini dilarang diadakan, posyandu gratis kagak ada, pisang goreng, gorengan, dan kopi buat ronda dilarang, rokok dan air putih pas kerja bakti dilarang, kerja bakti dilarang, sepak bola dan senam kesegaran jasmani dilarang, Sholat Jum’at, pengajian, dan TPA yg selama ini gratis ditutup.
2. Semua asset desa dan segala bentuk kekayaan desa boleh dijual dan dibeli oleh siapapun. Balai desa, sawah, masjid dan mushola, puskesmas, sekolahan, jalan, sungai, sumur, lapangan bola sampai pos ronda, warkop, empang, dan kandang ayam boleh dijual dan dibeli oleh siapapun, boleh dijual baik per meter maupun kiloan, boleh dialih fungsikan, dan desa akan menfasilitasi serta melindungi para penjual dan pembeli yg berminat.
3. Aparat desa yg diakui dan mendapat gaji dari desa hanya Lurah dan Sekretaris desa. Modin, Sambong (pengatur air), Bayan (bag. Administrasi), Ketua RW/RT, dan Hansip tidak diakui dan dipersilahkan mengadakan sendiri baik gaji, seragam, maupun segala tetek bengek yg berkaitan dg tugasnya.
4. Setiap masing- masing warga boleh membuat hukum dan aturan sendiri serta menguasai wilayah atau manusia di wilayah tersebut sesuka hati dan desa akan melindungi dan mengesahkan hal tersebut asalkan punya uang untuk disetor ke kas desa.
5. Kas desa digunakan semata-mata untuk kesejahteraan aparat desa (Lurah dan Sekdes) dan keluarganya.
Tertanda
1. Semua bentuk sumbangan, baik dari desa maupun dari warga sekitar dilarang. Kotak infak masjid harus disita, zakat fitrah pas lebaran dilarang, setiap ada kematian, desa dan warga dilarang menyumbang, angpao pernikahan dan sunatan dilarang, sunatan massal mulai detik ini dilarang diadakan, posyandu gratis kagak ada, pisang goreng, gorengan, dan kopi buat ronda dilarang, rokok dan air putih pas kerja bakti dilarang, kerja bakti dilarang, sepak bola dan senam kesegaran jasmani dilarang, Sholat Jum’at, pengajian, dan TPA yg selama ini gratis ditutup.
2. Semua asset desa dan segala bentuk kekayaan desa boleh dijual dan dibeli oleh siapapun. Balai desa, sawah, masjid dan mushola, puskesmas, sekolahan, jalan, sungai, sumur, lapangan bola sampai pos ronda, warkop, empang, dan kandang ayam boleh dijual dan dibeli oleh siapapun, boleh dijual baik per meter maupun kiloan, boleh dialih fungsikan, dan desa akan menfasilitasi serta melindungi para penjual dan pembeli yg berminat.
3. Aparat desa yg diakui dan mendapat gaji dari desa hanya Lurah dan Sekretaris desa. Modin, Sambong (pengatur air), Bayan (bag. Administrasi), Ketua RW/RT, dan Hansip tidak diakui dan dipersilahkan mengadakan sendiri baik gaji, seragam, maupun segala tetek bengek yg berkaitan dg tugasnya.
4. Setiap masing- masing warga boleh membuat hukum dan aturan sendiri serta menguasai wilayah atau manusia di wilayah tersebut sesuka hati dan desa akan melindungi dan mengesahkan hal tersebut asalkan punya uang untuk disetor ke kas desa.
5. Kas desa digunakan semata-mata untuk kesejahteraan aparat desa (Lurah dan Sekdes) dan keluarganya.
Tertanda
Lurah
Setelah peraturan ini disahkan kontan saja juragan Bakri, lintah darat cap nyamuk dan para centengnya teriak gembira. Mereka menyiapkan jutaan rupiah untuk membeli dan mengusai kampung tersebut beserta warga dan isinya. Untungnya warga menolak dan melawan keputusan tersebut. Dan untungnya, warga dibantu oleh wak Modin H. Dul Kamdi, cak Toyeb (sambong desa), dan cak Mat Grobak (komandan hansip).
Maka pas Sholat Jum’at (yg terpaksa diadakan di lapangan, karena masjid kampung dibeli, disegel, dan dijaga centengnya si Bakri) H. Somad (ketua takmir masjid) yg kebetulan jadi khotib membakar semangat warga. “Ini semua kedzoliman dan Islam tidak mentolerir segala kedzoliman,” kata H. Somad. Bahkan H. Somad berulang-ulang mengutip pernyataan sayyidina Ali, “seorang muslim tidak akan mengangkat senjata pada mereka yg berbeda keyakinan, kaum beriman hanya mengangkat senjata terhadap keangkaramurkaan dan kedzaliman”. Kemudian H. Somad mengakhiri khotbahnya dg menyitir ucapan Saad bin Abi Waqqas, ”kemerdekaan sejati hadirin adalah kemerdekaan untuk beribadah dan melaksanakan aturan Allah, bukan tunduk kepada aturan Lurah apalagi aturan si Bakri”.
Selesai sholat Jum’at, mbah H. Satar (tetua kampung) memimpin doa, ”Ya Allah kami berlindung dari gundah dan gelisah, kami berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan sifat malas, kami berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan bakhil, dan kami berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kekerasan hati manusia. Ampunilah kesalahan kami Ya Allah, ampuni kelalaian kami yg lebih percaya aturan manusia daripada aturan-aturanMu, terimalah tobat kami Ya Allah. Tabahkan kami, persatukan hati dan langkah2 kaki kami, dan berilah kekuatan kepada kami untuk menghancurkan musuh2Mu. Ya Allah, sibukkanlah orang-orang dzolim dg kedzoliman dan selamatkalah kami dari kedzoliman mereka. Gentarkan mereka Ya Allah, cerai beraikan mereka Ya Allah, dan berilah mereka rasa takut Ya Allah. Masukkanlah kami Ya Allah kedalam dua kebaikan; hidup mulia dalam aturanMu atau syahid di jalanMu. Amin Ya Robbal A’lamin, Allahu Akbar”.
Maka paska sholat Jum’at dg dipimpin cak Toyeb, cak Mat Grobak, dan mak Srikatun (yg kandang ayam plus penghuninya di akuisisi (diambil paksa) ama Kasdut Brengos (kepala centengnya Bakri)), warga menyerbu balai desa. Dengan membawa berbagai senjata mulai pacul, bawak, sapu, prongkalan, ketapel, bahkan Dul Tohir, tukang pukul bedug sempat2nya membawa pukulan bedug, dan neng Tik membawa pukulan kasur. Bahkan sangking semangatnya mak Srikatun mimpin di depan gak bawa apapun sambil cincing-cincing kain sarungnya. ”Lho mak, endih senjata peyan mak?” Tanya Paisol, cucunya. ”Sol, gak ndelok ah mak nggawe klompen warisane mbahmu iki. Klompen iki mas kawine emak pas rabi ambek mbahmu biyen. Iki kateh emak gawe ngantem, sing tengen kanggo ngantem raine Lurah gendeng, sing kiwo kanggo raine Bakri, gregeten aku,” jawab Mak Srikatun. ”Lha kanggo wak Kasdut mak?” Tanya Paisol lagi. ”Gak ndelok ah makmu iki nduwe senjata rahasia;ulekan sambel. Raine kasdut kateh emak ulek cek gak karu-karuan koyok pecelan terong utowo koyok penyetan tempe, yo minimal kejet-kejet koyok iwak lele pancinganmu wingi sol utowo mlayu sipat kuping koyok kucing sing kapane tak antem nggawe hulek-hulek iki gara2 nyolong iwak asine mak,” kata mak Srikatun lagi.
Maka sampailah warga di depan balai desa. Lurah dan kroninya, Bakri yg kebetulan nongkrong kaget bukan kepalang. Mereka mencoba menakuti wraga dg para centeng, sayangnya centeng kalah banyak dan lari terbirit-birit. Gak banyak cincong para pmpina warga menyeret Lurah dan Bakri, setelah diidhoni rame2, mereka diusir, hartanya disita buat warga, dan segala aturan mereka dihapus dan diganti dg aturan baru. Warga teriak2 menang, mereka bertakbir, dan bersholawat, mereka segera menuju masjid, di dalam dan di luar masjid (yg mau digunakan Bakri sebagai diskotik) warga serentak sujud syukur.
***
Mungkin ini gambaran sederhana saya tentang paham neoliberal. Bayangan saya kalau neoliberal benar2 dihayati oleh para penguasa di negeri ini. Sampai penguasa tingkat desa (lurah) menggunakan paham ini untuk mengatur desanya. Maka yg terjadi adalah kerusakan yg super duper total dan masyarakat akan langsung merasakan betapa kejamnya paham ini.
Neoliberal adalah salah satu model dari beberapa model ekonomi kapitalis. Dalam tulisannya (yg berjudul Neoliberal), pak Revrisond Baswir secara tersirat menggambarkan bahwa neoliberal adalah model ekonomi dimana campur tangan negara dalam mengatur ekonomi ditiadakan. Rakyat (dalam hal ini lebih enak disebut ”para korporasi”) diberi kebebasan untuk mengatur ekonominya sendiri. Intinya adalah pemerintah lepas tangan dari pengaturan ekonomi yg mengatur rakyatnya.
Neoliberal menitik beratkan kepada ”kemandirian ekonomi”. Maka negara (pertama) harus menghilangkan subsidi untuk rakyat (gak peduli rakyat menderita, aturan ini harus jalan), (kedua) liberalisasi sektor keuangan dan pasar, yg bisa diartikan bahwa siapapun dia apabila memiliki modal sah dan berhak untuk menguasai sektor keuangan dan pasar. Yg terjadi adalah monopoli (ingat permainan ini kan??) dan (lagi2) rakyat sangat dirugikan (coba bayangin klo minyak, air, udara, jalan, hingga ’rupiah’ dan segala macam hal yg menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai cuman oleh satu orang saja), sedangkan yg (ketiga) berhubungan dg kebijakan yg (kedua) maka negara berhak melakukan penjualan atau privatisasi BUMN (perusahaan negara) dan (atau) semua harta milik negara yg ujung2nya (kembali) rakyat dirugikan.
Neoliberal sendiri sangat berhubungan erat dg Korporatokrasi (lihat tulisan habis dan KORPORATOKRASI=penjajahan). Neoliberal adalah salah satu elemen yg digunakan oleh para korporasi untuk menjebak negara2 dunia ketiga (negeri2 muslim) ke dalam jebakan korporatokrasi. Melalui lembaga2 keuangan internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO, mereka melakukan pemaksaan2 atas nama MoU, LoI, dan berbagai macam kedok yg dibungkus dalam format stimulus penyelamat ekonomi. Semua ini berujung pangkal kepada penjajahan model baru yg diformat sedemikian rupa agar korbannya lengah dan tau2 kepalanya udah melayang.
Maka sekali lagi korbannya dalah kaum muslimin yg merupakan pewaris sah seluruh kekayaan yg dianugerahkan Allah di negeri-negerinya. Kitalah korbannya yg dipaksa dg mata kepala sendiri menyaksikan betapa seluruh harta kita (hingga kehormatan dan nyawa kita) dirampok dan anehnya banyak dari kita ikhlas dan diam saja menyaksikan ini semua.
Mengapa Neoliberalisme harus dilawan? (pandangan Islam tentang Neoliberal)
Saya sebenarnya gak enak hati membahas ini. Kok kesannya melangkahi MUI. Tapi gara2 nonton Braveheart, saya jadi pingin kayak Sir William Wallace yg mengobarkan semangat perlawanan rakyat Skotlandia terhadap penjajahan Inggris. Yang pasti ada beberapa hal mengapa neoliberal harus dilawan dan itu semua bagi saya cukup dg dua alasan.
1. karena neoliberal terbukti menyengsarakan rakyat. Neoliberal menumbuh suburkan kedzoliman dan Islam sangat membenci kedzoliman (tau pesannya sayyidina Ali di atas kan?).
2. karena sejak awal neoliberal bukan merupakan aturan yg diambil dari Al Quran dan Sunnah Rasul. Neoliberal merupakan turunan hukum kufur yg jelas2 kaum muslimin dilarang untuk mengambil, menerapkan, dan menyebarluaskannya.
Jadi bagi saya neoliberal hampir sama dg babi yg Allah Swt mengharamkan kita untuk mengkonsumsinya apapun kondisinya. Gak peduli nanti ada kebaikan dari neoliberal (atau ada kebaikan pada daging babi) hukumnya ya tetep haram.
Jadi udah selayaknyalah neoliberal kita lawan bukan kita bela, kita lindungi, apalagi malah kita jadikan teman.
http://burjo.wordpress.com/category/lawan-penjajah/
Maka pas Sholat Jum’at (yg terpaksa diadakan di lapangan, karena masjid kampung dibeli, disegel, dan dijaga centengnya si Bakri) H. Somad (ketua takmir masjid) yg kebetulan jadi khotib membakar semangat warga. “Ini semua kedzoliman dan Islam tidak mentolerir segala kedzoliman,” kata H. Somad. Bahkan H. Somad berulang-ulang mengutip pernyataan sayyidina Ali, “seorang muslim tidak akan mengangkat senjata pada mereka yg berbeda keyakinan, kaum beriman hanya mengangkat senjata terhadap keangkaramurkaan dan kedzaliman”. Kemudian H. Somad mengakhiri khotbahnya dg menyitir ucapan Saad bin Abi Waqqas, ”kemerdekaan sejati hadirin adalah kemerdekaan untuk beribadah dan melaksanakan aturan Allah, bukan tunduk kepada aturan Lurah apalagi aturan si Bakri”.
Selesai sholat Jum’at, mbah H. Satar (tetua kampung) memimpin doa, ”Ya Allah kami berlindung dari gundah dan gelisah, kami berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan sifat malas, kami berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan bakhil, dan kami berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kekerasan hati manusia. Ampunilah kesalahan kami Ya Allah, ampuni kelalaian kami yg lebih percaya aturan manusia daripada aturan-aturanMu, terimalah tobat kami Ya Allah. Tabahkan kami, persatukan hati dan langkah2 kaki kami, dan berilah kekuatan kepada kami untuk menghancurkan musuh2Mu. Ya Allah, sibukkanlah orang-orang dzolim dg kedzoliman dan selamatkalah kami dari kedzoliman mereka. Gentarkan mereka Ya Allah, cerai beraikan mereka Ya Allah, dan berilah mereka rasa takut Ya Allah. Masukkanlah kami Ya Allah kedalam dua kebaikan; hidup mulia dalam aturanMu atau syahid di jalanMu. Amin Ya Robbal A’lamin, Allahu Akbar”.
Maka paska sholat Jum’at dg dipimpin cak Toyeb, cak Mat Grobak, dan mak Srikatun (yg kandang ayam plus penghuninya di akuisisi (diambil paksa) ama Kasdut Brengos (kepala centengnya Bakri)), warga menyerbu balai desa. Dengan membawa berbagai senjata mulai pacul, bawak, sapu, prongkalan, ketapel, bahkan Dul Tohir, tukang pukul bedug sempat2nya membawa pukulan bedug, dan neng Tik membawa pukulan kasur. Bahkan sangking semangatnya mak Srikatun mimpin di depan gak bawa apapun sambil cincing-cincing kain sarungnya. ”Lho mak, endih senjata peyan mak?” Tanya Paisol, cucunya. ”Sol, gak ndelok ah mak nggawe klompen warisane mbahmu iki. Klompen iki mas kawine emak pas rabi ambek mbahmu biyen. Iki kateh emak gawe ngantem, sing tengen kanggo ngantem raine Lurah gendeng, sing kiwo kanggo raine Bakri, gregeten aku,” jawab Mak Srikatun. ”Lha kanggo wak Kasdut mak?” Tanya Paisol lagi. ”Gak ndelok ah makmu iki nduwe senjata rahasia;ulekan sambel. Raine kasdut kateh emak ulek cek gak karu-karuan koyok pecelan terong utowo koyok penyetan tempe, yo minimal kejet-kejet koyok iwak lele pancinganmu wingi sol utowo mlayu sipat kuping koyok kucing sing kapane tak antem nggawe hulek-hulek iki gara2 nyolong iwak asine mak,” kata mak Srikatun lagi.
Maka sampailah warga di depan balai desa. Lurah dan kroninya, Bakri yg kebetulan nongkrong kaget bukan kepalang. Mereka mencoba menakuti wraga dg para centeng, sayangnya centeng kalah banyak dan lari terbirit-birit. Gak banyak cincong para pmpina warga menyeret Lurah dan Bakri, setelah diidhoni rame2, mereka diusir, hartanya disita buat warga, dan segala aturan mereka dihapus dan diganti dg aturan baru. Warga teriak2 menang, mereka bertakbir, dan bersholawat, mereka segera menuju masjid, di dalam dan di luar masjid (yg mau digunakan Bakri sebagai diskotik) warga serentak sujud syukur.
***
Mungkin ini gambaran sederhana saya tentang paham neoliberal. Bayangan saya kalau neoliberal benar2 dihayati oleh para penguasa di negeri ini. Sampai penguasa tingkat desa (lurah) menggunakan paham ini untuk mengatur desanya. Maka yg terjadi adalah kerusakan yg super duper total dan masyarakat akan langsung merasakan betapa kejamnya paham ini.
Neoliberal adalah salah satu model dari beberapa model ekonomi kapitalis. Dalam tulisannya (yg berjudul Neoliberal), pak Revrisond Baswir secara tersirat menggambarkan bahwa neoliberal adalah model ekonomi dimana campur tangan negara dalam mengatur ekonomi ditiadakan. Rakyat (dalam hal ini lebih enak disebut ”para korporasi”) diberi kebebasan untuk mengatur ekonominya sendiri. Intinya adalah pemerintah lepas tangan dari pengaturan ekonomi yg mengatur rakyatnya.
Neoliberal menitik beratkan kepada ”kemandirian ekonomi”. Maka negara (pertama) harus menghilangkan subsidi untuk rakyat (gak peduli rakyat menderita, aturan ini harus jalan), (kedua) liberalisasi sektor keuangan dan pasar, yg bisa diartikan bahwa siapapun dia apabila memiliki modal sah dan berhak untuk menguasai sektor keuangan dan pasar. Yg terjadi adalah monopoli (ingat permainan ini kan??) dan (lagi2) rakyat sangat dirugikan (coba bayangin klo minyak, air, udara, jalan, hingga ’rupiah’ dan segala macam hal yg menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai cuman oleh satu orang saja), sedangkan yg (ketiga) berhubungan dg kebijakan yg (kedua) maka negara berhak melakukan penjualan atau privatisasi BUMN (perusahaan negara) dan (atau) semua harta milik negara yg ujung2nya (kembali) rakyat dirugikan.
Neoliberal sendiri sangat berhubungan erat dg Korporatokrasi (lihat tulisan habis dan KORPORATOKRASI=penjajahan). Neoliberal adalah salah satu elemen yg digunakan oleh para korporasi untuk menjebak negara2 dunia ketiga (negeri2 muslim) ke dalam jebakan korporatokrasi. Melalui lembaga2 keuangan internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO, mereka melakukan pemaksaan2 atas nama MoU, LoI, dan berbagai macam kedok yg dibungkus dalam format stimulus penyelamat ekonomi. Semua ini berujung pangkal kepada penjajahan model baru yg diformat sedemikian rupa agar korbannya lengah dan tau2 kepalanya udah melayang.
Maka sekali lagi korbannya dalah kaum muslimin yg merupakan pewaris sah seluruh kekayaan yg dianugerahkan Allah di negeri-negerinya. Kitalah korbannya yg dipaksa dg mata kepala sendiri menyaksikan betapa seluruh harta kita (hingga kehormatan dan nyawa kita) dirampok dan anehnya banyak dari kita ikhlas dan diam saja menyaksikan ini semua.
Mengapa Neoliberalisme harus dilawan? (pandangan Islam tentang Neoliberal)
Saya sebenarnya gak enak hati membahas ini. Kok kesannya melangkahi MUI. Tapi gara2 nonton Braveheart, saya jadi pingin kayak Sir William Wallace yg mengobarkan semangat perlawanan rakyat Skotlandia terhadap penjajahan Inggris. Yang pasti ada beberapa hal mengapa neoliberal harus dilawan dan itu semua bagi saya cukup dg dua alasan.
1. karena neoliberal terbukti menyengsarakan rakyat. Neoliberal menumbuh suburkan kedzoliman dan Islam sangat membenci kedzoliman (tau pesannya sayyidina Ali di atas kan?).
2. karena sejak awal neoliberal bukan merupakan aturan yg diambil dari Al Quran dan Sunnah Rasul. Neoliberal merupakan turunan hukum kufur yg jelas2 kaum muslimin dilarang untuk mengambil, menerapkan, dan menyebarluaskannya.
Jadi bagi saya neoliberal hampir sama dg babi yg Allah Swt mengharamkan kita untuk mengkonsumsinya apapun kondisinya. Gak peduli nanti ada kebaikan dari neoliberal (atau ada kebaikan pada daging babi) hukumnya ya tetep haram.
Jadi udah selayaknyalah neoliberal kita lawan bukan kita bela, kita lindungi, apalagi malah kita jadikan teman.
http://burjo.wordpress.com/category/lawan-penjajah/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar